Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

Bias Normalsi Dosa & Metanoya


Renungan Minggu, 27 September 2026 (Minggu Biasa XXVI)

Napanmalole

Bapa ibu saudara sekalian yang terkasih dalam Kristus. Orang-orang Kristen dewasa ini menghadapi satu fenomena yang namanya "Bias Normalsi Dosa". Fenomena ini dosa hampir merembes hingga sendi-sendi kehidupan beriman. Bias Normalsi Dosa adalah satu situasi di mana orang menganggap normal-normal saja orang berbuat dosa dan kesalahan karena itu urusan pribadi masing-masing.

Pernyataan bahwa itu urusan masing-masing ini yang membuat orang lain tidak takut berdosa dan menganggap biasa-biasa saja dengan dosa. Banyak orang kemudian memaklumi dosa sebagai sesuatu yang normal dan semua manusia berdosa sehingga untuk apa repot dengan kehidupan orang lain. Barangkali hal ini yang membuat tindakan dosa semakin dianggap sebagai hal yang normal-normal saja.

Bapa ibu saudara sekalian bacaan-bacaan suci hari ini memberi teguran bagi manusia agar orang-orang yang membuat kefasikan bisa berbalik dari tindakannya "Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati"

Kutipan di atas masih mempunyai benang merah dengan bacaan Injil hari ini tentang dua orang yang diminta untuk pergi ke kebun anggur. Yang pertama menjawab "iya" tetapi tidak melaksanakan apa yang ia setujui sedangkan yang lain mengatakan "tidak" tetapi kemudian menyadari itu sebagai hal yang salah sehingga ia bertobat dan pergi ke kebun anggur.

Bapa Ibu saudara sekalian, orang yang mengatakan "tidak" namun bertobat itulah yang dinginkan Tuhan bahwa dalam kehidupan sehari-hari selalu berdosa namun pada akhirnya memilih untuk berbalik dari dosa dan bertobat. Yesus kemudian mengatakan bahwa para pelacur dan pemungut cukai yang berobat akan lebih dahulu masuk dalam kerajaan Allah.

Saudara sekalian bacaan-bacaan suci hari ini mengundang kita untuk melakukan metanoia san rekonsiliasi. Metanoia dan rekonsiliasi pertama adalah dengan sesama yakni terbuka untuk, memaafkan, menyatu kembali dengan saudara seiman sehingga pada akhirnya tinggal dalam damai

Sedangkan Rekonsiliasi dengan Tuhan dilakukan dengan menerima Sakramen rekonsiliasi, menerima penitensi dari Imam sehingga kembali bersatu dengan Allah dan Gereja-Nya. Ini adalah metanoia dan rekonsiliasi yang paling mulia dalam gereja di mana relasi sesama manusia dan Tuhan kembali dipulihkan.

Saudara sekalian yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus di dalam Gereja terdapat tiga level Rekonsiliasi yang perlu diperhatikan bersama agak kehidupan beriman semakin subur dan hidup selalu dekat dengan Tuhan. Tiga level Rekonsiliasi itu adalah pertama menyesal artinya bahwa orang perlu menyadari salah dan dosanya. Kedua adalah bertobat yakni berbalik dari dosa dan kesalahan dan yang ketiga adalah metanoia  yakni manusia memutuskan untuk mulai hidup baru dalam Tuhan.


Lebih baik bertobat terlambat daripada tidak pernah sama sekali.

"Melius est paenitentia quam nunquam"

Semoga Tuhan memberkati kita sekalian. Amin


Post a Comment

0 Comments