![]() |
| Lensu Merah-Dokpri |
Menjelang periode milenium ke tiga, rumah-rumah di Timor berganti model. Rumah atap alang-alang dengan dinding pelepah gebang dan bambu diganti dengan atap seng dan dinding batu. Perubahan ini kemudian menciptakan persaingan dalam membangun rumah. Perlahan-lahan rumah-rumah atap daun dinding bambu dan bebak diganti. Dan bisa disaksikan sekarang rumah-rumah Timor sebagian besar mengikuti gaya melayu. Rumah-rumah Timor selalu dibangun dengan dua rumah terpisah. Yakni Uem Kase (rumah Melayu) dan Uem Bubu (rumah bulat).
Kekhasan bentuk rumah di Timor adalah bulat. Di mana atap rumah bisa menyentuh tanah khusus untuk dapur. Dan atap berada di ketinggian dengan empat tiang penopang lalu dilingkari dengan kayu berbentuk bulat untuk menahan tikus agar tidak memakan hasil panenan yang ada di bale-bale (Lopo). Ketika masa kemerdekaan orang-orang Timor mulai bersentuhan dengan budaya lain seperti di Jawa, maka rumah-rumah pun ikut mengalami perubahan.
Uem Kase Sebagai Ekspresi Kemapanan
| Uem Bubu- Dokprib |
Dewasa ini ketika berkeliling ke pelosok-pelosok Timor nyaris tidak ditemui lagi rumah asli Timor dengan khazana budayanya seperti alang-alang dan bebak. Memasuki periode milenium III, rumah-rumah sudah tembok dan atap seng. Bagi masyarakat kalangan menengah ke bawa, rumah tembok dan atap seng adalah ekspresi kemapanan ekonomi. Sehingga orang-orang Timor sejak tahun 1980-an hingga saat ini berlomba-lomba meninggalkan kampung halam menuju Kalimantan, Sumatera, Malaysia dan Singapura untuk mengais rejeki agar membangun rumah yang lebih bermartabat menurut pandangan orang.
Gelombang perantauan Timor memenuhi tempat-tempat yang telah disebutkan. Dan kini Papua menjadi objek tatapan para perantau tahun 2000-an. Bagi masyarakat Timor, rumah tembok lebih mengangkat nama dari pada rumah bambu dan atap daun. Sebab jika rumah masih seperti itu, berarti orang tersebut tidak mampu secara finansial. Miris, namun itulah kenyataan yang kita jumpai di Timor. Bagaimana pun juga kekhasan rumah kita harus tetap terpelihara dengan nilai budaya dan kekayaan tradisi.
Uem Kase dan Tole Mtasa (Rumah Seng dan Lensu Merah)
Rumah-rumah Timor sebagian besar telah bertembok dan beratap seng. Hal ini menunjukan kemajuan ekonomi masyarakat Timor cukup baik. Namun apakah kita sadari atau tidak. Bahwa pembangunan rumah gaya modern (Uem Kase: Rumah Melayu) bisa mengganti khazana kekayaan yang kita miliki di Timor. Rumah atap alang-alang, daun lotar dan gebang telah menghilang dan tinggal kenangan. Rumah-rumah modern Timor yang ada saat ini terbilang unik, lantaran terdapat satu kain merah di kuda-kuda rumah.
Kain merah tersebut adalah lensu yang digantung oleh tukang di kuda-kuda tengah rumah. Setelah melewati wawancara lisan, penulis mendapat beberapa jawaban yang bisa memuaskan dahaga akademik para pembaca yang selama ini bertanya-tanya apa tujuan utama dari kain merah di dalam rumah dekat seng. Jawaban yang menjadi rujukan adalah dari yang disampaikan oleh Bapa Benediktus Siki pada Rabu (17/03/2021) bahwan tujuan dari kain merah itu adalah untuk menjaga para tukang dari kecelakaan.
‘’Kain merah itu untuk menyimpan uang, sirih-pinang dan sopi agar setelah pengatapan, tukang mengambilnya dan tujuannya adalah untuk menghindari terjadinya kecelakaan saat berada di bubungan rumah atau tidak terluka oleh seng’’. Tutur Bapa Bene via telpon. Penjelasan ini setidaknya mampu menjawab pertanyaan kita selama ini, mengapa di setiap rumah ada kain merah di kuda-kuda. Sejauh ini penulis belum menemukan mitis magisnya sebab gedung-gedung gereja di Timor pada umumnya dipasang juga lensu merah. Apakah ada roh jahat ? Silahkan simpulkan sendiri.
![]() |
| antvklik.com |


0 Comments