Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

Filosofi Anjing dan Gambaran Iman

 

Prosesi Jalan Salib 

 Setelah saya melihat gambar di atas saya ingat percakapan Yesus dan orang Siro Fenisia

"Tuhan, tolonglah aku."Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki" (Mat. 15:25-28).

Dari foto di atas dan juga percakapan Yesus dan Perempuan Siro Fenisia kita bisa belajar beberapa hal dari Seekor anjing. Anjing dianggap sebagai bintang yang tak berakal Budi dan kawin di mana saja dan dengan anjing betina mana saja. Namun, kita lupa bahwa musim kawin anjing terbatas. Jika musim kawin anjing sudah lewat mau ada anjing betina belasan ekor di situ, anjing jantan tidak akan tergoda sama sekali.

Ini berbeda dengan manusia, yang mempunyai akal budi tapi dalam hal menjaga diri agar tidak tergoda kita kalah jauh dari seekor anjing jantan. Kadang perilaku menyimpang manusia dicap sebagai sifat anjing tetapi kenyataannya terbalik.

Kedua, anjing itu setia dengan satu tuan dan tinggal di rumah kecuali saat musim kawin dia akan ke rumah yang ada anjing betina tetapi dia akan kembali. Ini berbeda dengan manusia. Soal kesetiaan anjing tidak disumpah dan tidak berjanji untuk setia tetapi hidupnya penuh kesetiaan dengan tuannya.

Sementara manusia belum tentu setia dengan Tuhan dan pasangannya. Ini menjadi ironi dimana perilaku manusia yang salah lalu seolah meniru sikap anjing. Manusia sebenarnya harus menimbah nilai yang baik dari anjing.

Orang Yahudi zaman Yesus menilai orang Siro Fenisia sebagai "Anjing" karena bukan bangsa Pilihan Allah tetapi cobalah perhatikan ketulusan wanita Siro Fenisia dalam mengimani Yesus. Meskipun dicap sebagai anjing tetapi imannya luar biasa dan mukjizat pun terjadi.

Oleh sebab itu anjing yang ada di rumah kita mengajarkan banyak nilai kehidupan kepada manusia maka sangat pantas dan layak untuk memperlakukan anjing sewajarnya. Dengan ini saya mau katakan stop bunuh anjing dan stop dijadikan Rintek Wuuk (RW).

Demikian filosofi anjing dalam kehidupan sehari-hari dan tulisan ini diinspirasi oleh gambar yang diambil oleh Bapa Laurentinus Siki saat Jalan Salib Minggu III Lingkungan St. Benediktus, Tes dan terlihat seekor anjing mendahului perarakan. Semoga Tulisan ini bermanfaat Tuhan Yesus memberkati.🙏

Post a Comment

0 Comments