| sanskertaonline.com |
Fajar merekah di ufuk timur. Bayang-bayang mentari masih tertutup halimun. Kembang melati harum mewangi
menyambut fajar baru. Embun pagi masih bertengger di puncak gemunung, rina-rinai
hujan sejak semalam enggan beranjak dari pelataran hari.
Tirai haru dibuka sukma. Kembara cinta siaga tualang tuk melewati sejuntai kisah hari yang siap dilalui dalam balada pilu dan sendu puri batin.
Burung tekukur terbang melintasi
hari, rajawali mengepak sayap hingga langit tertinggi. Dan anak-anak kambing
mengembik di pandang yang hijau dengan hamparan alam yang menakjubkan.
Butir-butir embun masih melekat
di dedauanan, para petani sudah menuju perkebunan dan area peternakan mereka
untuk melanjutkan hidup. Gerombolan kerbau, sapi dan kambing telah memenuhi
padang dengan sinar surya yang cemerlang.
Vera kembali berlibur di Kodi
kampung halamanya ayahnya setelah menyelesaikan studi strata satunya. Ia bersama keluarga besar datang ke kampung
untuk memperingati setahun meninggalnya oma kesayangan mereka; Nene Lola.
“Akhirnya bisa ketemu lagi. Kami
rindu sekali orang Kupang dong hehe” kata Rambu Ria puteri kedua dari bapa
Paskal. “Beta ju, makanya beta cepat-cepat ujian skripsi ko datang libur su.
Pas kebetulan ujian selesai seminggu sebelum satu tahun meninggal nene Lola jadi
b bisa iko e kalo sonde b tinggal e” kata Vera bangga.
“Ma omong-omong, kaka nyong su ada ko belum ni?” tanya Rambu. “Kaka nyong sapa le, b pu kaka nyong banyak e ada yang di mama punk kampung, ada yang bapa Paskal punk anak dong ada yang di Kupang” jawab Vera.
“Kak bukan itu, maksudnya pacar to” “O.. kalo itu beta
belum pikir masih urus lamar kerja dulu baru pikir” kata Vera. “Nah memang lu
su ada ko?” tanya Vera. “Sudah ee ma rahasia hhh” “Ai itu sama sa,
jangan-jangan lu dengan ade nyong di
video yang viral ko menangis ancam mama
sonde mau ame isteri”
“His sonde a, itu anak SD ma, ada
masih keluarga dengan mama tu, bikin malu-malu sa hhh” “ Sonde apa-apa intinya
di bisa viral di Kupang e hhh.” “Tapi beta rasa risih anak SD bingung bodok su
menangis mau pacar hhh”.
Rambu Ria dan Vera masih
berbicara tentang pacar Vera yang belum ada tanda-tanda. Ria selalu memantau
melalui media sosial namun tidak ia temukan satu foto laki-laki yang gandeng
Vera yang ia lihat hanya anak-anak seangkatan dan juga kelompok Literasi.
***
“Selamat malam semua, bosong kenal nona yang kena rui rambut tu ko?” chat Mira. “Nona sapa lai?” balas Vian. “Itu yang viral di media sosial tu, ada satu ibu dengan dia punk anak nona masih pake seragam ko dong keroyok nona di Kota Lama sana” balas Dea.
“Ma katong sonde tau, makasih e ibu wartawati hhh” balas Karel. “He
katong serius katanya orang Sabu trus ibu itu maki itu ana nona bilang sonde
ada harga diri” lanjut Mira.
“Terus dia bilang dia punk sandal lebih mahal dari itu nona punk harga diri” lanjut Dea. “Awi punk sadis lai, nah itu kasus su karman?” tanya Lidya. “Katanya sih korban su lapor hanya belum ada pemanggilan dari polisi padahal su dua minggu ni” lanjut Mira.
“Jangan sampe orang besar tu b curiga sa” kata Vera. “Bisa
jadi karena dia punk suami bilang politisi partai besar” lanjut Dea. “Awi parah
su pantas polisi belum gerak ma katong harus dukung penegakan hukum katong ni
Negara hukum” balas Vian.
Grup
wa kelompok literasi ramai memperbincangkan masalah yang sedang viral di media
sosial. Di mana seorang gadis Kota Kupang dikeroyok oleh sorang ibu dan puterinya
yang masih menggunakan seragam sekolah.
Selain
kekerasan fisik si gadis juga mendapat kekerasan verbal di mana ia dikatain
sebagai anjing dan harga dirinya rendah dari sandal si ibu. Kasus ini sudah
mendapat komentar dari netizen dan mereka meminta agar diproses hukum.
Keluarga
korban kekerasan fisik dan verbal yang terjadi dua pekan lalu kini membulatkan
tekad bahwa kasus yang menimpa anak mereka akan tetap diproses hukum. Meskipun
para pelaku sudah bertemu keluarga korban untuk membicarakan perdamaian, namun
ibu korban tetap menolak untuk berdamai.
Alasan
penolakan damai ini cukup jelas. Video yang beredar di youtube dan facebook
menjadi bukti paling otentik tanpa editan betapa congkak dan angkuhnya para
pelaku merendahkan martabat orang lain bahkan sandal jepit lebih mahal.
Keluarga
besar korban terus mendapat dukungan dari warga net untuk lanjutkan kasus ini
melalui jalur hukum sebab terjadi beberapa pelanggaran yakni kekerasaan fisik
dan kekerasan verbal.
Terdapat
beberapa komentar yang mengatakan bahwa damai boleh tetapi hokum harus
ditegakan. Ada pula yang mengatakan bahwa harus diproses secara hukum agar bisa
memberi efek jera kepada para pelaku untuk mengurangi kesombongan mereka.
Dan salah satu keluarga yang juga bekerja di jajaran pemerintahan ( Kepolisian) di dalam komentarnya ia menegaskan bahwa, proses hukum terus berlanjut.
"Korban adalah beta punk ponaan n proses hukum tetap berjalan" komentar salah satu keluarga korban"
Dan pernyataan menuai dukungan
dari para netizen dan mereka terus memantau perkembangan kasus ini hingga di
Lembaga Permasyarakatan.
Mencintai melalui hukum adalah cinta untuk kebaikan bangsa dan Negara yang menganut azas Negara hukum. Hukum adalah kekuatan bangsa jika hukum diperkosa, maka Negara akan kolaps.
***
Filip
semakin dicintai oleh para seminaris dan para guru awam. Ia tampil beda dari
semua frater top yang pernah ada. Bahkan selalu mendapat pujian dari kepala
sekolah dan guru-guru seminari.
Meski
demikian, Filip tidak terbuai dengan pujian yang mereka berikan. Ia selalu
berusahan menjadi frater top yang telandan agar setelah selesai masa top tidak
ada cerita miring dan gossip untuk frater-frater top selanjutnya. Ia tidak
hanya pandai tetapi juga kreatif dan rajin.
Anak-anak
seminaris sudah lebih akrab dengan dunia literasi. Ia selalu memantau
perkembangan menulis mereka dan tulisan yang terbaik ia kirim ke media online
untuk dipublikasikan.
Anak-anak
seminaris lebih nyaman berada bersamanya daripada Mika dan Teo. Ia bahkan
mendengar perbandingan dari para seminaris kelas 3 bahwa kadang-kadang mereka
tidak bangun ikut misa dan terlambat masuk mengajar.
“Frater,
beta rasa kek kaka sendiri. Bisa bergaul akrab sonde ke kaka toper yang lama
yang menghindar dari katong” kata Lukas. “Beta ju rasa gitu bahagia dapat toper
yang pintar, rajin dan suka bercerita dengan katong” kata Nias. “Makasih semua
e. tapi jangan lupa kerjakan tugas dan belajar nilai kurang keluar su tau to
eheh” kata Filip menasehati.
Para
seminaris sangat bersemangat untuk belajar sebab pekan ujian hampir dekat. Ia
pun meminta mereka untuk selalu bersemangat dalam belajar sebab kriteria di
seminari sangat berbeda dari sekolah formal di luar.
“Frater
ada dua nona berdiri di luar dong ada tanya bilang frater top di sini sapa?”
kata Lukas. “Makasih e beta pi cek di depan dulu” kata Filip.
Filip
melihat Om Patris, satpam seminari menahan dua gadis yang hendak masuk. Filip
pun mendekati mereka menanyakan perihal kedatangan mereka. Fillip pun berusaha untuk bersikap tidak
gerogi dan biasa-biasa saja.
“Selamat
siang nona ada bisa dibantu?” Tanya Filip. “Siang juga beta dengan beta punk
teman mau lamar kerja katanya masih buka ko?” Tanya seorang gadis. “Ok
silahkan masuk ke kantor bertemu romo” kata fillip.
Lalu Filip mengantar mereka menuju kantor untuk bertemu Kepala sekolah. Setelah itu, Filip meninggalkan mereka untuk mengikuti ibadat siang.
Namun sebelum ke kapela, ia mengambil ponsel dan terdapat beberapa panggilan dan chat masuk dari nomor baru. Ia pun menelpon balik.
“Selamat siang, maaf ini dengan siapa?" kata Filip. "Siang ju kk frater, beta mau bertemu tapi b su di kantor" kata pemilik no baru. "Kantor mana? Kantor polisi ko hh" kata Filip. Bukan fr beta mau...." "Selamat siang semua ada yang bisa saya bantu?" telpon terputus.
Bersambung✍
0 Comments