Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

Jubah dan Luka (Part 25)

 

sanskertaonline.com

Fajar merekah di ufuk timur. Bayang-bayang mentari masih tertutup halimun.  Kembang melati harum mewangi menyambut fajar baru. Embun pagi masih bertengger di puncak gemunung, rina-rinai hujan sejak semalam  enggan beranjak dari pelataran hari.

Tirai haru dibuka sukma. Kembara cinta siaga tualang tuk melewati sejuntai kisah hari yang siap dilalui dalam balada pilu dan sendu puri batin.

Burung tekukur terbang melintasi hari, rajawali mengepak sayap hingga langit tertinggi. Dan anak-anak kambing mengembik di pandang yang hijau dengan hamparan alam yang menakjubkan.

Butir-butir embun masih melekat di dedauanan, para petani sudah menuju perkebunan dan area peternakan mereka untuk melanjutkan hidup. Gerombolan kerbau, sapi dan kambing telah memenuhi padang dengan sinar surya yang cemerlang.

Vera kembali berlibur di Kodi kampung halamanya ayahnya setelah menyelesaikan studi strata satunya.  Ia bersama keluarga besar datang ke kampung untuk memperingati setahun meninggalnya oma kesayangan mereka; Nene Lola.


“Akhirnya bisa ketemu lagi. Kami rindu sekali orang Kupang dong hehe” kata Rambu Ria puteri kedua dari bapa Paskal. “Beta ju, makanya beta cepat-cepat ujian skripsi ko datang libur su. Pas kebetulan ujian selesai seminggu sebelum satu tahun meninggal nene Lola jadi b bisa iko e kalo sonde b tinggal e” kata Vera bangga.

Ma omong-omong, kaka nyong su ada ko belum ni?” tanya Rambu. “Kaka nyong sapa le, b pu kaka nyong banyak e ada yang di mama punk kampung, ada yang bapa Paskal punk anak dong ada yang di Kupang” jawab Vera.

“Kak bukan itu, maksudnya pacar to” “O.. kalo itu beta belum pikir masih urus lamar kerja dulu baru pikir” kata Vera. “Nah memang lu su ada ko?” tanya Vera. “Sudah ee ma rahasia hhh” “Ai itu sama sa, jangan-jangan lu dengan ade nyong  di video yang  viral ko menangis ancam mama sonde mau ame isteri”

“His sonde a, itu anak SD ma, ada masih keluarga dengan mama tu, bikin malu-malu sa hhh” “ Sonde apa-apa intinya di bisa viral di Kupang e hhh.” “Tapi beta rasa risih anak SD bingung bodok su menangis mau pacar hhh”.

Rambu Ria dan Vera masih berbicara tentang pacar Vera yang belum ada tanda-tanda. Ria selalu memantau melalui media sosial namun tidak ia temukan satu foto laki-laki yang gandeng Vera yang ia lihat hanya anak-anak seangkatan dan juga kelompok Literasi.

***

“Selamat malam semua, bosong kenal nona yang kena rui rambut tu ko?” chat Mira. “Nona sapa lai?” balas Vian. “Itu yang viral di media sosial tu, ada satu ibu dengan dia punk anak nona masih pake seragam ko dong keroyok nona di Kota Lama sana” balas Dea.

Ma katong sonde tau, makasih e ibu wartawati hhh” balas Karel. “He katong serius katanya orang Sabu trus ibu itu maki itu ana nona bilang sonde ada harga diri” lanjut Mira.

“Terus dia bilang dia punk sandal lebih mahal dari itu nona punk harga diri” lanjut Dea. “Awi punk sadis lai, nah itu kasus su karman?” tanya Lidya. “Katanya sih korban su lapor hanya belum ada pemanggilan dari polisi padahal su dua minggu ni” lanjut Mira.

“Jangan sampe orang besar tu b curiga sa” kata Vera. “Bisa jadi karena dia punk suami bilang politisi partai besar” lanjut Dea. “Awi parah su pantas polisi belum gerak ma katong harus dukung penegakan hukum katong ni Negara hukum”  balas Vian.

Grup wa kelompok literasi ramai memperbincangkan masalah yang sedang viral di media sosial. Di mana seorang gadis Kota Kupang dikeroyok oleh sorang ibu dan puterinya yang masih menggunakan seragam sekolah.

Selain kekerasan fisik si gadis juga mendapat kekerasan verbal di mana ia dikatain sebagai anjing dan harga dirinya rendah dari sandal si ibu. Kasus ini sudah mendapat komentar dari netizen dan mereka meminta agar diproses hukum.

Keluarga korban kekerasan fisik dan verbal yang terjadi dua pekan lalu kini membulatkan tekad bahwa kasus yang menimpa anak mereka akan tetap diproses hukum. Meskipun para pelaku sudah bertemu keluarga korban untuk membicarakan perdamaian, namun ibu korban tetap menolak untuk berdamai.

Alasan penolakan damai ini cukup jelas. Video yang beredar di youtube dan facebook menjadi bukti paling otentik tanpa editan betapa congkak dan angkuhnya para pelaku merendahkan martabat orang lain bahkan sandal jepit lebih mahal.

Keluarga besar korban terus mendapat dukungan dari warga net untuk lanjutkan kasus ini melalui jalur hukum sebab terjadi beberapa pelanggaran yakni kekerasaan fisik dan kekerasan verbal.

Terdapat beberapa komentar yang mengatakan bahwa damai boleh tetapi hokum harus ditegakan. Ada pula yang mengatakan bahwa harus diproses secara hukum agar bisa memberi efek jera kepada para pelaku untuk mengurangi kesombongan mereka.

Dan salah satu keluarga yang juga bekerja di jajaran pemerintahan ( Kepolisian) di dalam komentarnya ia menegaskan bahwa, proses hukum terus berlanjut.

"Korban adalah beta punk ponaan n proses hukum tetap berjalan" komentar salah satu keluarga korban"

Dan pernyataan menuai dukungan dari para netizen dan mereka terus memantau perkembangan kasus ini hingga di Lembaga Permasyarakatan.

Mencintai melalui hukum adalah cinta untuk kebaikan bangsa dan Negara yang menganut azas Negara hukum. Hukum adalah kekuatan bangsa  jika hukum diperkosa, maka Negara akan kolaps.

***

Filip semakin dicintai oleh para seminaris dan para guru awam. Ia tampil beda dari semua frater top yang pernah ada. Bahkan selalu mendapat pujian dari kepala sekolah dan guru-guru seminari.

Meski demikian, Filip tidak terbuai dengan pujian yang mereka berikan. Ia selalu berusahan menjadi frater top yang telandan agar setelah selesai masa top tidak ada cerita miring dan gossip untuk frater-frater top selanjutnya. Ia tidak hanya pandai tetapi juga kreatif dan rajin.

Anak-anak seminaris sudah lebih akrab dengan dunia literasi. Ia selalu memantau perkembangan menulis mereka dan tulisan yang terbaik ia kirim ke media online untuk dipublikasikan.

Anak-anak seminaris lebih nyaman berada bersamanya daripada Mika dan Teo. Ia bahkan mendengar perbandingan dari para seminaris kelas 3 bahwa kadang-kadang mereka tidak bangun ikut misa dan terlambat masuk mengajar.

“Frater, beta rasa kek kaka sendiri. Bisa bergaul akrab sonde ke kaka toper yang lama yang menghindar dari katong” kata Lukas. “Beta ju rasa gitu bahagia dapat toper yang pintar, rajin dan suka bercerita dengan katong” kata Nias. “Makasih semua e. tapi jangan lupa kerjakan tugas dan belajar nilai kurang keluar su tau to eheh” kata Filip menasehati.

Para seminaris sangat bersemangat untuk belajar sebab pekan ujian hampir dekat. Ia pun meminta mereka untuk selalu bersemangat dalam belajar sebab kriteria di seminari sangat berbeda dari sekolah formal di luar.

“Frater ada dua nona berdiri di luar dong ada tanya bilang frater top di sini sapa?” kata Lukas. “Makasih e beta pi cek di depan dulu” kata Filip.

Filip melihat Om Patris, satpam seminari menahan dua gadis yang hendak masuk. Filip pun mendekati mereka menanyakan perihal kedatangan mereka.  Fillip pun berusaha untuk bersikap tidak gerogi dan biasa-biasa saja.

“Selamat siang nona ada bisa dibantu?” Tanya Filip. “Siang juga beta dengan beta punk teman mau lamar kerja katanya masih buka ko?” Tanya seorang gadis. “Ok silahkan masuk ke kantor bertemu romo” kata fillip.

Lalu Filip mengantar mereka menuju kantor untuk bertemu Kepala sekolah. Setelah itu, Filip meninggalkan mereka untuk mengikuti ibadat siang.

Namun sebelum ke kapela, ia mengambil ponsel dan terdapat beberapa panggilan dan chat masuk dari nomor baru. Ia pun menelpon balik.

“Selamat siang, maaf ini dengan siapa?" kata Filip. "Siang ju kk frater, beta mau bertemu tapi b su di kantor" kata pemilik no baru. "Kantor mana? Kantor polisi ko hh" kata Filip. Bukan fr beta mau...." "Selamat siang semua ada yang bisa saya bantu?" telpon terputus.

Bersambung


Post a Comment

0 Comments