Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

Kitab Suci dan Peradaban Literasi

 

id.googsalt.com

Kitab Suci adalah pedoman hidup orang beriman. Dan  merupakan keajaiban literasi sepanjang masa. Isinya adalah firman Tuhan, nubuatan para nabi, wejangan-wejangan, petuah-petuah dan juga sastra orang-orang terilhami. Meskipun demikian, Kitab Suci adalah buku yang diproses secara manusiawi berkat ilham Roh Kudus dengan ketelitian literasi yang mendalam.

Literasi adalah kekuatan utama dalam proses pembentukan Kitab Suci. Tanpa literasi, Kitab Suci tidak pernah sampai ke tangan kita. Maka, budaya literasi zaman Alkitab sungguh suatu keajaiban yang  menakjubkan. Letak keajaiban itu terselubung dalam warisan budaya literasi. Tanpa budaya literasi, Sabda Tuhan akan menguap dan tidak diingat. Namun, dengan kekuatan literasi, Bangsa Israel berhasil mendokumentasikan Sabda Allah dalam tulisan yang kemudian menjadi buku pedoman iman.

Bangsa dengan kebudayaan literasi tinggi akan selalu dikenang sejarah dan tidak menghilang dari jejak peradaban. Bangsa Yahudi menjadi bangsa di dunia dengan jejak peradaban literasi yang tinggi. Mereka mampu  merekam Sabda Yahwe dalam bentuk tulisan yang dimulai pada abad kedua sebelum masehi. Tulisan-tulisan Kitab Suci berasal dari   penulis berbeda. Meski demikian, mereka mendapat ilham yang sama.  

parokicikarang.or.id

Literasi Kitab Suci

Kata literasi berasal dari bahasa Latin ‘literatus’ yang berarti orang yang belajar. Makna literasi  kemudian   mengami perluasan makna menjadi orang yang membaca dan menulis. Persis pada pengertian  ini, Kitab Suci pun dimengerti sebagai sumber bacaan tertulis yang berisikan sabda Tuhan. Sabda itu ditulis dengan kemampuan literasi yang menakjubkan. 

Para penulis zaman lampau menggunakan medium seadanya. Papirus dan perkamen menjadi sahabat sejati dalam budaya literasi.  Tradisi-tradisi lisan diabadikan dalam tulisan berkat ketajaman literasi para penulis unggul Yahudi. Tanpa budaya menulis, isi Kitab Suci saat ini hanya akan dituturkan saja. Dengan menulis, isi Kitab Suci  kemudian   diwariskan turun temurun.

Sebelum adanya mesin percetakan seperti saat ini, semua Kitab yang ada disalin secara manual. Salinan-salinan itu disimpan dengan rapih kemudian dikanonkan menjadi Kitab Suci oleh mereka yang mempunyai otoritas. Semua tulisan ini tetap tinggal dan terus diingat sehingga tidak pernah menghilang dari sejarah. Maka benarlah bahwa, kekuatan literasi mampu menghidupkan yang mati.

Jika tanpa budaya literasi, tentu kita tidak pernah menjumpai Kitab Suci seperti saat ini. Kitab Suci merupakan  buah peradaban budaya literasi yang akan dikenang sepanjang sejarah. Ketika memasuki era kekristenan, para Rasul mengisahkan semua pengalaman mereka bersama Yesus. Kisah-kisah tersebut lalu ditulis. Ada yang ditulis oleh rasul Yesus sendiri, ada pula oleh murid-murid para Rasul.

Periode Perjanjian Baru, kita   berjumpa dengan para penulis Kristen awal. Mereka adalah keempat penginjil suci (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes), surat-surat Rasul Paulus, dan juga surat-surat lainnya. Semua tulisan mereka dibukukan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Ini merupakan satu pencapaian   para rasul untuk meneruskan ajaran Yesus ke era kita.

parokicikarang.or.id

Kitab Suci dan Nama

Kitab Suci orang Kristen mempunyai dua nama dan digunakan bergantian. Nama pertama adalah Alkitab dan yang kedua adalah  Bible. Kata Alkitab berasal dari bahasa Arab yang berarti kumpulan kitab-kitab. Namun, nama tersebut jarang digunakan di forum umum. Justru yang lebih dikenal adalah "Kitab Suci".

 Nama   kedua adalah Bible. Nama ini merupakan serapan dari bahasa Inggris yang berarti  Kitab Suci. Kata Bible juga merupakan kata Latin ‘Biblia’ yang juga merupakan terjemahan dari kata Yunani ‘Biblia ta Hagia’; Kitab Suci. Makna kata ‘Biblia’ adalah kertas atau gulungan naskah.

Kata Biblia merupakan singkat dari Bylos, yakni papirus Mesir. Dengan demikian kata biblia merujuk pada  bentuk awal Kitab Suci  yang ditulis dalam papirus (sejenis rumput yang tumbuh di sungai Nil). Pada masa literasi awal papirus menjadi wadah untuk menulis dan dalamnya naskah-naskah Kitab Suci disalin  untuk dibaca dan direnungkan.

wrjohnblog.wordpress.com

Sampai saat ini Perpustakaan Vatikan masih menyimpan manuskrip Kitab Suci  papirus dan perkamen (kulit binatang) abad 8 dan 10. Arsip Vatikan ini dikenal dengan ‘Codex Vaticanus’ yakni salinan Tanakh dalam bahasa Ibrani dan Aram.

Singkatnya, budaya literasi menghidupan yang telah mati. Kisah ribuan tahun tetap diingat karena ditulis dalam kitab. Oleh sebab itu, tanpa menulis, semua kisah akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah. Jika Kitab Suci tidak pernah ditulis, maka setiap peristiwa iman dalamnya akan lenyap dari sejarah.

Maka, benarlah  yang dikatakan oleh St. Hironimus bahwa tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Yesus Kristus. Dengan nada  yang sama, kita boleh berkata bahwa tidak mengenal  literasi, berarti tidak mengenal Kitab Suci dengan demikian tidak mengenal Kristus. Oleh sebab itu,   budaya literasi harus dijadikan habitus bagi generasi saat ini dan yang akan datang. Sebab dengan literasi kita   menghadirkan yang berlalu dan menghidupkan yang mati.

Budaya literasi adalah budaya anti lupa. Ketika semua lupa, literasi hadir untuk mengingatkan kita.  Budaya lisan itu baik tetap akan berlalu tetapi budaya tulis itu tetap dengan menghadirkan yang telah berlalu. Maka benarlah pepetah klasik Romawi ini ‘Verba Volant, Scriptur Manent’ perkataan akan lenyap (terbang) tetapi tulisan tetap.

Selamat Berbulan Madu Bersama Kitab Suci. Kecaplah manisnya dan nikmati rasanya.

hidupkatolik.com

Post a Comment

0 Comments