![]() |
| id.googsalt.com |
Kitab Suci adalah pedoman hidup orang beriman. Dan merupakan keajaiban literasi sepanjang
masa. Isinya adalah firman Tuhan, nubuatan para nabi, wejangan-wejangan,
petuah-petuah dan juga sastra orang-orang terilhami. Meskipun demikian, Kitab
Suci adalah buku yang diproses secara manusiawi berkat ilham Roh Kudus dengan
ketelitian literasi yang mendalam.
Literasi adalah kekuatan utama dalam proses
pembentukan Kitab Suci. Tanpa literasi, Kitab Suci tidak pernah sampai ke
tangan kita. Maka, budaya literasi zaman Alkitab sungguh suatu keajaiban yang menakjubkan. Letak keajaiban itu terselubung
dalam warisan budaya literasi. Tanpa budaya literasi, Sabda Tuhan akan menguap
dan tidak diingat. Namun, dengan kekuatan literasi, Bangsa Israel berhasil
mendokumentasikan Sabda Allah dalam tulisan yang kemudian menjadi buku pedoman
iman.
Bangsa dengan kebudayaan literasi tinggi akan selalu
dikenang sejarah dan tidak menghilang dari jejak peradaban. Bangsa Yahudi
menjadi bangsa di dunia dengan jejak peradaban literasi yang tinggi. Mereka mampu merekam Sabda Yahwe dalam bentuk tulisan yang
dimulai pada abad kedua sebelum masehi. Tulisan-tulisan Kitab
Suci berasal dari penulis berbeda. Meski demikian, mereka
mendapat ilham yang sama.
![]() |
| parokicikarang.or.id |
Literasi
Kitab Suci
Kata literasi berasal dari bahasa Latin ‘literatus’ yang berarti orang yang
belajar. Makna literasi kemudian mengami
perluasan makna menjadi orang yang membaca dan menulis. Persis pada pengertian ini, Kitab Suci pun dimengerti sebagai sumber
bacaan tertulis yang berisikan sabda Tuhan. Sabda itu ditulis dengan kemampuan literasi
yang menakjubkan.
Para penulis zaman lampau menggunakan medium
seadanya. Papirus dan perkamen menjadi sahabat sejati dalam budaya literasi. Tradisi-tradisi lisan diabadikan dalam tulisan
berkat ketajaman literasi para penulis unggul Yahudi. Tanpa budaya menulis, isi
Kitab Suci saat ini hanya akan dituturkan saja. Dengan menulis, isi Kitab Suci kemudian diwariskan turun temurun.
Sebelum adanya mesin percetakan seperti saat ini,
semua Kitab yang ada disalin secara manual. Salinan-salinan itu disimpan dengan
rapih kemudian dikanonkan menjadi Kitab Suci oleh mereka yang mempunyai otoritas. Semua
tulisan ini tetap tinggal dan terus diingat sehingga tidak pernah menghilang
dari sejarah. Maka benarlah bahwa, kekuatan literasi mampu menghidupkan yang
mati.
Jika tanpa budaya literasi, tentu kita tidak pernah
menjumpai Kitab Suci seperti saat ini. Kitab Suci merupakan buah peradaban budaya literasi yang akan
dikenang sepanjang sejarah. Ketika memasuki era kekristenan, para Rasul mengisahkan
semua pengalaman mereka bersama Yesus. Kisah-kisah tersebut lalu ditulis. Ada yang
ditulis oleh rasul Yesus sendiri, ada pula oleh murid-murid para Rasul.
Periode Perjanjian Baru, kita berjumpa
dengan para penulis Kristen awal. Mereka adalah keempat penginjil suci (Matius,
Markus, Lukas dan Yohanes), surat-surat Rasul Paulus, dan juga surat-surat
lainnya. Semua tulisan mereka dibukukan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Ini merupakan
satu pencapaian para rasul untuk meneruskan ajaran Yesus ke era kita.
![]() |
| parokicikarang.or.id |
Kitab
Suci dan Nama
Kitab Suci orang Kristen mempunyai dua nama dan
digunakan bergantian. Nama pertama adalah Alkitab dan yang
kedua adalah Bible. Kata Alkitab berasal dari bahasa
Arab yang berarti kumpulan kitab-kitab. Namun, nama tersebut jarang digunakan
di forum umum. Justru yang lebih dikenal adalah "Kitab Suci".
Nama kedua
adalah Bible. Nama ini merupakan
serapan dari bahasa Inggris yang berarti Kitab Suci. Kata Bible juga merupakan kata Latin ‘Biblia’ yang juga merupakan terjemahan dari kata Yunani ‘Biblia ta Hagia’; Kitab Suci. Makna kata
‘Biblia’ adalah kertas atau gulungan
naskah.
Kata Biblia
merupakan singkat dari Bylos, yakni
papirus Mesir. Dengan demikian kata biblia
merujuk pada bentuk awal Kitab Suci yang ditulis dalam papirus (sejenis rumput yang
tumbuh di sungai Nil). Pada masa literasi awal papirus menjadi wadah untuk
menulis dan dalamnya naskah-naskah Kitab Suci disalin untuk dibaca dan direnungkan.
![]() |
| wrjohnblog.wordpress.com |
Sampai saat ini Perpustakaan Vatikan masih menyimpan
manuskrip Kitab Suci papirus dan perkamen
(kulit binatang) abad 8 dan 10. Arsip Vatikan ini dikenal dengan ‘Codex Vaticanus’ yakni salinan Tanakh
dalam bahasa Ibrani dan Aram.
Singkatnya, budaya literasi menghidupan yang telah
mati. Kisah ribuan tahun tetap diingat karena ditulis dalam kitab. Oleh sebab
itu, tanpa menulis, semua kisah akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah. Jika Kitab
Suci tidak pernah ditulis, maka setiap peristiwa iman dalamnya akan lenyap dari
sejarah.
Maka, benarlah yang dikatakan oleh St. Hironimus bahwa tidak
mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Yesus Kristus. Dengan nada yang sama, kita boleh berkata bahwa tidak
mengenal literasi, berarti tidak
mengenal Kitab Suci dengan demikian tidak mengenal Kristus. Oleh sebab itu, budaya
literasi harus dijadikan habitus bagi generasi saat ini dan yang akan datang. Sebab
dengan literasi kita menghadirkan yang berlalu dan menghidupkan
yang mati.
Budaya literasi adalah budaya anti lupa. Ketika
semua lupa, literasi hadir untuk mengingatkan kita. Budaya lisan itu baik tetap akan berlalu
tetapi budaya tulis itu tetap dengan menghadirkan yang telah berlalu. Maka benarlah
pepetah klasik Romawi ini ‘Verba Volant,
Scriptur Manent’ perkataan akan lenyap (terbang) tetapi tulisan tetap.
Selamat Berbulan Madu Bersama Kitab Suci. Kecaplah manisnya
dan nikmati rasanya.
![]() |
| hidupkatolik.com |





0 Comments