Seorang
Youtuber asal NTT, El Asamau mengumumkan dirinya positif terpapar Virus
Corona. Pengumuman ini dilakukan secara terbuka di laman akun youtube-nya ‘El
Asamau Official’ pada tanggal 9 April 2020. Ia mengumumkan dirinya mendahului pemerintah sehari sebelum diumumkan secara
resmi. Yang menarik dari kasus pertama di NTT adalah si
pasien dengan tegar mengumumkan dirinya tanpa
cemas, gentar dan takut. Pengumuman ini sekaligus menjadikan NTT provinsi
terakhir yang terpapar COVID 19 setelah Provinsi Gorontalo melalui Gubernur
mengumumkan satu pasien terpapar COVID 19, pada hari yang sama. Dua provinsi tersisa
ini; NTT dan Gorontalo menempati posisi
terakhir dari daftar semua provinsi di Indonesia yang terpapar Virus Corona.
Kini
saatnya kita meninggalkan ruang diskusi COVID 19, baik
di rumah, di kantor, di jalan-jalan, di FB, IG, WA maupun di Youtube. Kita saatnya
memulai yang baru yakni siapkan iman dan
imun agar aman dalam menghadapi gempuran
musuh tak berwujud ini. Pembicaraan-pembicaraan tentang COVID
19 ini sejatinya tidak hanya sampai pada narasi tetapi harus sampai pada aksi. Saatnya
telah tiba untuk berbenah dan berjuang untuk mempertahankan provinsi ini dari
penyebaran yang meluas sebagaimana yang terjadi di China, Eropa, Amerika
Serikat dan Indonesia Barat. Penyakit ini telah menjejakkan diri di Nusa
Tenggara Timur yang kapan saja bisa dipelesetkan menjadi Nanti Tuhan Tolong. Dan
memang NTT telah menyatakan perang melawan COVID 19.
Hic
Et Nunc
Kini
dan di sini (Hic Et Nunc), di rumah
kita sendiri bukan di rumah orang lain. Saatnya kita berperang melawan musuh
tak berwajah yang telah tiba agar rumah kita tidak dijarah oleh cemar COVID 19
ini. Meskipun adanya keterlambatan dalam pengumuman pasien positif pertama,
kita harus tetap tegar bahwa kita mampu berjuang melawannya. Memang miris dan
menyedihkan bahwa adanya keterlambatan pihak
medis dalam memberi sampel darah untuk bisa diketahui oleh pasien. Sejak kembali
dari Jakarta beliau langsung di Kupang dan mengisolasi diri. Namun ketika ia
mendapat kabar bahwa temannya yang bersama-sama dengan dia di Jakarta positif
terpapar virus Coronam ia pun bergegas menuju rumah sakit daerah NTT ini untuk
mengambil darah namun hasilnya baru ia dapatkan 20 hari kemudian. Memang suatu
jangka waktu yang lama. Mari kita petik pelajarannya.
Pemberitaan
tentang virus corona bukan lagi satu bahan lelucon untuk mengejek mencibir sambil mengatakan dalam hati
bahwa itukan di Jawa, masih jauh. Tidak!
Prinsip ini salah sebagai komunitas bumi. Kita tinggal di satu bumi yang sama berbelarasa
dengan sesama manusia tidak ditakar dengan asal usul ras, bahasa dan agama.
Belarasa sejatinya sudah harus lahir sejak pertama kali muncul di Wuhan, Cina. Akan
tetapi kita terlena dan merasa itu tidak penting bagi hidup kita. Kini dan di
sini (Hic et Nunc), telah ada di nusa
kita Nusa Tenggara Timur, bukan di benua lain seperti Eropa dan Amerika, bukan
di negara lain seperti di China dan Malaysia, buka pula di Provinsi lain
seperti di Jawa, Sumatera dan Sulawesi tetapi di sini di NTT, sekarang.
Tangkal Mental
Banalitas
Di tengah kecemasan dunia
akibat COVID 19, mental banalitas masih membelit hidup harian kita. Mental
banalitas adalah satu sikap di mana orang menganggap segala bentuk bencana,
kesedihan dan penderitaan orang lain sebagai hal yang biasa-biasa saja. Jadi mental
banal adalah suatu disposisi batin yang menganggap bencana sebagai sesuatau
yang biasa-biasa saja. Tentu mental ini membahayakan apalagi Provinsi kita
sudah terpapar COVID 19. Saatnya kita
membangkitan semangat solidatias dan menangkal sikap banalitas agar virus
corona di NTT dapat ditangkis dan tidak dapat menyebar ke mana-mana.
Kecemasan dunia saat ini
tidak dapat dibendung lagi. Alih-alih, kejadian ini mengundang solidaritas
berskala global agar kita semua bangkit dan keluar dari jajahan COVID 19 ini.
Saat ini adalah kesempatan berahmat untuk menunjukan solidaritas kepada dunia
dengan berdoa dan beraksi. Namun di tengah situasi dunia yang sedang mencekam,
banyak di antara kita menganggap peristiwa duka ini hanyalah hal yang biasa-biasa
saja. Berleha-leha, menikmati perjalanan jauh yang tidak penting dan menganggap
tidak ada yang masalah.
Kematian itu pasti tetapi
kita tidak tahu kapan dan bagaimana kita mati. Jika ingin mati, silahkan mati
untuk diri sendiri jangan membuat orang lain menderita dengan sikap banalitas. Sejak pengumuman resmi pemerintah untuk
menjalankan pembatas sosial berskala besar, banyak oknum agama merasa
terlecehkan sebab tidak dapat menjalankan kewajiban agamanya dengan baik sesuai
hukum yang dimiliki agama tersebut. Sikap ini adalah sikap teror dan mental
pemberontak. Dengan taat kepada anjuran
pemerintah, kita tela satu langkah ke depan dalam melindungi nusa dan bangsa serta
putera-puterinya dari ancaman maut.
Mental banalitas masih cukup
tinggi di NTT. Akan tetapi dengan adanya pasien pertama NTT yang terpapar ini
boleh menjadi bahan permenungan agar kita segera menangkal sikap banal dan ikut
ambil bagian dalam duka dan kecemasan global. Kini semua provinsi telah terpapar tidak ada yang tersisa selain Tuhan.
Oleh sebab itu sikap banalitas yang
masih subur di NTT, sejatinya segera dikuburkan bersama sikap-sikap masah bodoh
lainya agar NTT tidak mengalami nasib serupa dengan provinsi dan negara lain. Sebab
kita dana dan perlengkapan kita masih jauh dari memadai. Harus tetap patuhi
instruksi pemerintah untuk menjaga jarak sosial dalam skala yang besar dan
menghindari sejauh mungkin perjalanan yang tidak penting dan tetap berada di
rumah.
Jalan raya kita masih ramai, pusat-pusat perbelanjaan masih hiruk
pikuk, tempat-tempat rekreasi tetap ramai seperti biasanya. Kita memang
mengerti tetapi bersikap banal. Mari kita patahkan siklus tirani virus korona.
Dan berusaha agar tidak jatuh terpapar dalam tirani banalitas dengan menganggap
remeh peristiwa yang sedang terjadi di dunia saat ini. Saatnya kita bersatu
dengan dunia dalam doa agar proses pengurangan dan penghilangan COVID 19 segera
tercapai.
Altruisme Anak Nusa
Sikap
belaras dan empati terhadap kemanusiaan sejatinya tidak tersekat pada sesama
saudara kita yang sepulau, sebahasa, serumah adat, sekabupaten dan seprovinsi
tetapi sikap belarasa harus menajangkau hingga level semesta. Ibu pertiwi yang
sedang kita tempati kini sedang bersusah hati, air matanya berlinang menyaksikan
kematian tanpa rencana, penguburan tanpa seremoni perpisahan dengan sanak
saudara dan keluarga. Ini suatu kisah yang haru.
Sikap
altrusitik adalah etika bumi yang paling mendalam dan sangat mahal harganya. COVID
19 yang telah tiba di nusa kita sejatinya harus semakin menyuburkan semangat
altruisme kita dalam saling mendukung dan mendoakan agar pandemi ini tidak
menyebar ke mana-mana. Gagasan Altruisme pertama kali ditemukan oleh Auguste
Comte, Sosiolog Jerman untuk menunjukan
solidaritas kepada sesama manusia. Kata Altruisme sendiri berasal dari kata
Latin “Alter” artinya “yang lain”. Sehingga
kita sering kali mendegar istilah “alter ego”, aku yang lain. Paham altruistik
adalah satu paham yang berusaha untuk memperjuangkan kehidupan orang lain,
tanpa mengutamakan kepentinga diri sendiri.
NTT,
kini saatnya membangunkan dan membangkitakan semangat Altruisme dalam batin
untuk bersama-sama memerangi COVID 19, yang telah berada di ambang rumah kita. Kita
patut melakukan dan mengikuti semua anjuran pemerintah, periksa kesehatan ke
rumah sakit, menjauhi kerumunan massa, dan selalu menjaga pola hidup yang
sehat. Anjuran untuk tinggal di rumah bukan suatu lelucon yang harus
ditertawakan dan bukan suatu kekang yang harus dilawan. Ini adalah soal
kehidupan dan untuk beraktivitas di luar rumah harus sungguh mendesak yang
berhubungan dengan hal-hal vital manusia. Kita tidak ingin agar provinsi kita
hancur babak belur seperi di Eropa dan Amerika saat ini. Nusa, Tuhan Tolong !
(NTT)



0 Comments