“Cinta Kasih; Hukum Tertinggi”
(Telaah Filosofis-Biblis, Pemaknaan
Hari Kasih Sayang; Cinta Model
Mana?)
Oleh: Jondry Siki, CMF
Ada
dua orientasi agama di muka bumi. Pertama orientasi hukum dan kedua, orientasi
cinta. Berhadapan dengan dua orientasi ini, agama Kristen mendasarkan orientasi
ajaran imannya di atas fondasi cinta. Lalu agama-agama lain, mendasarkan ajaran
imannya di atas hukum. Kedua pendekatan ini tentu berbeda. Namun untuk mencari
kualitas iman, orang harus berpaut pada orientasi cinta ketimbang orientasi
hukum. Proses menuju orientasi cinta sebagaimana yang sudah dirasakan oleh
agama Kristen tidak sekali jadi. Sejak perceraian antara agama dan negara pasca
revolusi Prancis, Gereja dan negara didewasakan. Pendewasaan ini bukan tanpa
korban. Tercatat dalam sejarah bahwa ribuan biarawan-biarawati dan klerus
dibunuh sebab, mereka inilah ‘kaki-tangan’ raja. Sejak saat itu hingga kini,
gereja berjalan dalam tugasnya dalam spiritualitas dan moralitas tanpa
menggangu urusan negara. Demikian urusan negara mengatur urusan kesejahteraan
umum tanpa mengganggu Gereja.
Cinta Kasih
Setiap
bahasa dan budaya mempunyai penghayatan tersendiri tentang cinta kasih. Bagi orang
Kristen, cinta kasih adalah hukum tertinggi. Seorang Farisi bertanya kepada Yesus
soal hukum yang terutama. “ Guru, hukum
manakah yang terutama dalam hukum taurat ?” Jawab Yesus kepadanya: “ Kasihilah
Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap akal budimu. Itulah hukum yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama
dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat
22:36-39). Dua hukum yang sepadan
yang dikemukakan Yesus kepada orang Farisi merupakan hukum yang amat sempurna. Dasar
hukum yang dibawakan oleh Yesus adalah hukum “Cinta Kasih”. Mencintai Allah dan
sesama manusia adalah hukum tertinggi dalam ajaran iman Kristen. Di sini Yesus
menekankan aspek Cinta yang besar dengan segenap kemampuan manusia. Apa yang
ada pada manusia adalah sarana cinta. Hati adalah sarana merasakan cinta, jiwa
adalah sarana untuk mengalami cinta dan akal budi adalah jalan untuk selalu
berpikir bagaimana mengasihi Allah dan sesama dengan baik dan benar.
Cinta Kasih Konservatif
(Eksklusif)
Setiap
agama dan budaya mempunyai konsep cinta kasih tersendiri yang mampu dipahami
dan dihayati oleh semua penganutnya. Apa maksud dari cinta kasih konservatif ?
Cinta kasih konservatif adalah satu bentuk dan gaya cinta kasih yang tertutup
hanya untuk kelompok dan golongannya sendiri. Di luar golongannya mereka adalah
musuh atau dalam konteks agama mereka adalah “kafir”. Hal ini dapat kita jumpai
pada orientasi hukum di mana segalanya diukur dari kebenaran hukum. Setiap orang
yang melakukan dan menjalankan hukum yang sama ia patut dan pantas dihormati
dan dicintai. Sementara kelompok yang tidak sepaham dan selairan untuk
menjalankan hukum yang berlaku dalam kelompok dan golongannya mereka harus
dilenyapkan. Di sini konteks cinta kasih konservatif berlaku.
Cinta Kasih Progresif
(Inklusif)
Satu
kemenangan yang dibawakan oleh Yesus adalah cinta kasih Progresif. Apa maksud
dari cinta kasih progresif ? Jika konsep cinta kasih konservatif hanya berlaku
bagi golongan tertentu yang sama, maka konsep cinta kasih konservatif jauh
melampaui apa yang dihayati oleh kelompok penganut cinta kasih konservatif. Cinta
kasih progresif adalah model cinta kasih yang berlaku dan dapat diberikan
kepada siapa saja yang hidup. Mencintai semua yang ada tanpa memandang
perbedaan suku, ras, agama dan budaya. Mencintai mereka sebab mereka juga
adalah sesama ciptaan. Yesus bersabda “: Kasihilah
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Mat 22:39). Sesama manusia adalah
mereka semua yang memiliki akal budi dan kehendak yang sama seperti kita
walaupun mereka berbeda keyakinan dengan kita.
Cinta
kasih progresif merupakan proyek raksasa gereja Katolik yang belum pernah
selesai dibangun. Meskipun idealisme cinta kasih progresif telah dihidupi
selama berabad-abad lamanya, namu praksis hidup belum menunjukan suatu kemajuan
yang berarti. Segala konsep cinta kasih progresif selalu disuarakan oleh gereja
namun prakteknya membutuhkan waktu yang cukup lama. Gereja Katolik sejak
Konsili Vatikan II telah membuka diri kepada bangsa-bangsa yang memiliki
kebenaran dan kebaikan dalam ajaran iman mereka oleh sebab itu konsep cinta
kasih di antara sesama Katolik berlaku juga untuk mereka yang bukan Katolik. Hal
ini sejalan dengan semangat Konsili Vatikan II. Kita patut bersyukur bahwa konsep Extra Ecclesia Nulla Salus telah
ditinggalkan dan dibaharui dengan Extra
Ecclesiam Salus Est, bahwa di Luar Gereja tidak ada keselamatan kini
dibaharui menjadi di luar Gereja ada keselamatan. Dengan demikian perintah baru
pun dijalankan. “Aku memberikan perintah
baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah
mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua
orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling
mengasihi." (Yohanes 13:34-35).
Hari Kasih Sayang
Tanggal
14 Februari tercatat dalam sejarah orang muda sedunia sebagai hari Kasih Sayang,
atau yang lebih keren dan milenial “Hari Valentine”
atau “Valentine’s Day”. Awal mula
dunia tidak mengenal perayaan Hari Kasih Sayang. Konon, seorang imam Katolik
mudah, Pater Valentinus, hidup pada masa penganiayaan Kristen yang sangat kuat
dan segala pengajaran gereja dihambat oleh kekaisaran Romawi. Kala itu,
Kekaisaran Romawi Suci dipimpin oleh Kaisar Klaudius II pada tahun 269, jauh
sebelum pengakuan Kristen sebagai agama negara oleh Kaisar Teodesius pada tahun
380. Gereja kala itu sedang dalam masa penganiayaan yang hebat.
Salah
satu kebijakan Kaisar Klaudius II untuk menguasai dunia adalah mewajibkan semua
pemuda di seluruh kekasaran untuk mengambil bagian dalam dunia militer dengan
terjun ke medan tempur di mana saja Romawi berkuasa. Selain itu, ia juga melarang pernikahan bagi para pemuda. Namun kebijakan
ini ditentang oleh Pastor Valentinus dengan diam-diam menikahkan sepasang
kekasih di dalam gua ditemani cahaya lilin. Aksinya ini diketahui kaisar, lalu
ia ditangkap, ditahan serta dihukum,
kemudian tubuhnya dipukul hingga dipancung pada tanggal 14 Februari 278 Masehi.
Hari hukuman Pastor Valentinus dikenang
dan dijadikan tanda dan peringatan Hari Kasih Sayang sedunia hingga kini.
Pemaknaan Hari Kasih
Sayang, Cinta Model mana ?
Pertanyaan
Hari Kasih Sayang, Cinta model mana ? memang sulit untuk diawab dengan lekas. Di
awal ulasan, saya mencantukan cinta gaya Yesus dalam pewartaanNya. Lantas,
untuk menghubungkan Hari Kasih sayang dengan Kasih sayang versi Yesus, kita
agak kewalahan. Di bagian akhir drama Injil Yohanes, dikisahkan tentang
perintah Yesus kepada Petrus untuk menggembalakan domba-dombaNya dengan suatu
percakan soal cinta, dan kasih sayang.
“Sesudah
sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah
engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus
kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah
domba-domba-Ku." Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya:
"Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab
Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya:
"Gembalakanlah domba-domba-Ku." Kata Yesus kepadanya untuk ketiga
kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi
Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga
kalinya: "Apakah engkau mengasihi
Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu,
Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya:
"Gembalakanlah domba-domba-Ku. (Yoh 21:15-17)
Dalam bahasa Yunani terdapat tingkatan cinta sehingga mempermudah kita untuk mengerti model cinta Yesus dalam pewartaanNya. Mari kita teliti bacaan Injil di atas. Yesus tiga kali mengatakan “mengasihi” kepada Petrus. Teks Indonesia hanya menggunakan kata “Mengasihi” untuk berbicara tentang “Hukum Tertinggi, Cinta Kasih”. Namun dalam bahasa Yunani, dua kata pertama “mengasihi” yang diucapkan Yesus diterjemahkan dari kata Σ 'αγαπώ S 'agapó,(Cinta Ilahi) lalu jawaban Petrus adalah “Aku Mengasihi Engkau”, diterjemahkan dari kata Philio. Kata Philio adalah tingkatan tingkat kedua dalam bahas Yunani, yang berarti mencintai sesuatu karena ada syaratnya atau dengan kata lain ‘asal bapa senang’
Lalu kali yang ketiga Yesus mengatakan “Mengasihi” itu adalah terjemahan dari kata Philio, untuk menghargai kerapuhan Petrus oleh karena kejatuhannya dalam mengikuti Yesus. Karena menyadari bahwa Yesus menurunkan derajad cintaNya, maka sedilah hati Petrus. Kesedihan Petrus adalah buah dari ketidaksetiaan dalam mengikuti Yesus. Ia merasa bersalah karena telah menodai cinta yang Yesus berikan yakni cinta “Agape” dengan cinta “Philia”.
Telaah Filosofis Hari Kasih Sayang Dalam Tiga Tingkatan Cinta
Nah, sekarang, kita telaah, Hari Kasih Sayang dalam tiga tingkatan cinta. Pertama Cinta Agape. Memang agape sendiri adalah cinta, namun persoalan yang kita hadapi adalah Bahasa Indonesia yang kurang memadai dalam kata “cinta”. Hari Kasih Sayang yang otentik adalah perayaan Agape, St Valentinus demi terwujudnya cinta suci pasangan yang ingin menikah. Ketulusan hati St Valentinus mengantarnya meregang nyawa di hadapan hukum. Hari Kasih Sayang adalah Hari Agape. Apa itu cinta agape ? Cinta agape adalah cinta tanpa syarat dan takaran. Semua orang harus dicintai karena mereka adalah sesama manusia. St Valentinus seorang Katolik sejati mengikuti gaya Yesus Kristus, oleh cinta rela dihukum mati. Atau cinta agape menurut Gabriel Marcel, “Kau dan Aku menjadi kita atau aku menemukan dirimu di dalam diriku dan aku menemukan diriku di dalam dirimu.
Cinta kedua adalah cinta filia. Cinta persahabatan yang relasional dan kondisional. Artinya saya mencintai karena adala relasi di antara kita. Seperti relasi ayah-anak, ibu-anak, opa-cucu, sahabat yang sehobi dan satu minat yang sama dengan kita. Cinta ini dibangun atas dasar saling ketergantungan di mana orang yang kita cintai mempunyai jasa dalam hidup kita, atau karena dia adalah teman baik yang memilik hobi yang sama. Atau bisa juga kita mencintai karena ia telah berbuat kepada kita agar dirinya tidak dikecewakan. Ketika datang kemalangan biasanya cinta jenis ini sirna. Hal ini tidak dianjurkan demikian dalam Hari Kasih Sayang, sebab motivasi cinta ini untuk mencari aman.
Tingkatan terakhir adalah Cinta Eros. Cinta eros adalah rasa cinta yang dibangun atas dasar nafsu birahi. Di sini manusia bukan subjek cinta tetapi sebagai objek pelampiasan hawa nafsu. Cinta eros ditujukan kepada lawan jenis pertama-tama sekadar untuk memuaskan hawa nafsunya. Cinta ini tidak melihat kepribadian manusia tetapi sekadar dari jenis kelamin dan postur tubuh yang dimiliki. Pada tingkatan ini, perayaan hari Kasih sayang mengalami pergeseran maknanya, di mana banyak kaum muda menjadikan Hari Valentine untuk lelang seks secara gratis kepada pasanganya sebagi kado dan hadia yang mutahir. Di sini Hari Valentine tidak dimaknai sebagai hari kasih sayang tetapi dijadikan sebab hari pesta seks pra-nikah.
Hari Kasih Sayang adalah perayaan cinta Agape St Valentinus di mana ia hendak menegakan Hukum Tertinggi yang diwartakan oleh Yesus Kristus yakni ‘Hukum Cinta Kasih”. Hukum Cinta Kasih adalah hukum yang dibangun atas dasar cinta “agape”. Setiap orang yang merayakan Hari Kasih Sayang sebagai Hari Kasih Sayang ia adalah manusia pencinta dan akan dicintai oleh Allah sebagai sumber kasih dan Allah sendiri adalah Kasih “Deus Caritas Est”.

0 Comments